Friday, March 3, 2017

Filsafat Abad Pertengahan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sejarah filsafat Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476, yakni masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (sekarang Istambul), sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya.
Masa ini diawali dengan lahirnya filsafat Eropa. Sebagaimana halnya dengan filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat atau pemikiran pada Abad Pertengahan pun dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Artinya, pemikiran filsafat Abad Pertengahan didominasi oleh agama. Pemecahan semua persoalan selalu didasarkan atas dogma agama, sehingga corak pemikiran kefilsafatannya bersifat teosentris[1].
Adapun istilah Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17) sesungguhnya hanya berfungsi membantu kita untuk memahami zaman ini sebagai zaman peralihan (masa transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting sesudah dan sebelumnya, yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.
Dengan demikian, bentangan waktu seribu tahun sejarah filsafat Barat Kuno (Yunani dan Romawi) yang sudah kita bahas dilanjutkan dengan masa seribu tahun sejarah filsafat Abad Pertengahan yang akan kita bahas dalam makalah ini.
Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan ini terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama kristen pada permulaan abad masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan agama. Zaman pertengahan adalah zaman keemasan bagi kekristenan[2]. Disinalah yang menjadi persoalannya, karena agama kristen itu mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan yunani kuno mengatakan bahwa kebanaran dapat di capai oleh kemampuan akal[3].

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Ciri-ciri Filsafat Abad Pertengahan ?
2.      Apa Pengertian Skolastik ?
3.      Bagaimana Perjalanan filsafat Skolastik ?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui Ciri-ciri Filsafat Abad Pertengahan
2.      Mengetahui Pengertian Skolastik
3.      Mengetahui Perjalanan filsafat Skolastik













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Ciri Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
Akan tetapi, orang akan sungguh-sungguh salah paham jika memandang filsafat Abad Pertengahan semata-mata sebagai filsafat yang selalu berisi dogma atau anjuran resmi Gereja. Sebab, sebagaimana nanti akan kita lihat, tema yang selalu muncul dalam sejarah filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu Allah sebagaimana termaktub dalam kitab suci dan pengetahuan yang berdasarkan kemampuan rasio manusia. Dan, dalam hal ini, tidak semua pemikir abad pertengahan mempunyai jawaban yang sama.
Adanya beragai macam aliran pemikiran yang mengkaji tema tersebut menunjukkan bahwa para pemikir pada zaman itu ternyata bisa berargumentasi secara bebas dan mandiri sesuai dengan keyakinannya. Kendati tidak jarang mereka, harus berurusan dan bentrok dengan para pejabat gereja sebagai otoritas yang kokoh dan terkadang angkuh pada masa itu. Oleh karena itu, kiranya dapat dikatakan bahwa filsafat abad pertengahan adalah suatu filsafat agama dengan agama kristiani sebagai basisnya.
Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang menyolok dengan abad sebelumnya. Perbedaan itu terutama terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh nabi isa pada permualaan abad masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan.
Agama Kristen menjadi problema kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pendangan yunani kuno yang mengatakan bahwa kebanaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
Mengenai sikap terhadap pemikiran Yunani ada dua[4]:
1.      Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang kafir karena tidak mengakui wahyu.
2.      Menerima filsafat yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan maka kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang sejati. Oleh karena itu, akal dapat dibantu oleh wahyu.

B.     Pengertian Skolastik
Istilah skolastik adalah sifat yang berasal dari kata school yang berarti sekolah jadi, skolastik berarti aliran,atau yang berkaitan dengan sekolah. Perkataan skolastik merupakan corak khas dari sejarah filsafat abad pertengahan.
Filsafat pada abad pertengahan adalah suatu arah pemikiran  yang berbeda sekali dengan arah pemikiran dunia kuna. Filsafat abad pertengahan menggambarkan suatu zaman yang baru sekali di tengah-tengah suatu rumpun bangsa yang baru, yaitu bangsa Eropa barat. Filsafat yang baru ini disebut skolastik.
            Sebutan skolastik mengungkapkan, bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan oleh sekolah-sekolah, dan bahwa ilmu itu terikat pada tuntunan pengajaran di sekolah-sekolah itu. Semula skolastik timbul di biara-biara tertua di Galia Selatan, tempat pengungsian ketika ada perpindahan bangsa-bangsa. Sebab di situlah tersimpan hasil-hasil karya para tokoh kuna dan para penulis kristiani. Dari biara-biara di Gallia selatan itu pengaruh skolastik keluar sampai di irlandia, di Nederland dan di jerman. Kemudian skolastik timbul di sekolah-sekolah kapittel, yaitu sekolah-sekolah yang dikaitkan dengan gereja[5].

Terdapat beberapa pengertian dari corak khas skolastik, yaitu :
a.       Filsafat skolastik adalah : Filsafat yg mempunyai corak semata-mata agama. Karena skolastik ini sebagai bagian dari kebudayaan abad pertengaan yang religius
b.      Filsafat Skolastik adalah : Filsafat yang mengabdi kepada teologi atau filsafat yang rasional memecahkan persoalan-persoalan mengenai berfikir, sifat ada, kejasmanian, kerohanian, baik buruk. Dari rumusan tsb kemudian muncul istilah : Skolastik yahudi, Skolastik arab dan lain-lainnya
c.       Filsafat Skolastik adalah : suatu system filsafat yang termasuk jajaran pengetahuan alam kodrat, akan dimasukkan kedalam bentuk sintesa yang lebih tinggi antara kepercayaan dan akal
d.      Filsafat skolastik adalah filsafat Nasrani, karena banyak di pengaruhi oleh ajaran gereja
Filsafat Skolastik ini dapat berkembang dan tumbuh karena beberapa faktor  yaitu :
v  Faktor Religius
Faktor Religius dapat mempengaruhi corak pemikiran filsafatnya. Yang di maksud dengan faktor religius adalah keadaan lingkungan saat itu yang berperikehidupan religius .  mereka beranggaban bahwa hidup di dunia ini suatu perjalanan ketanah suci yerusalim. Dunia ini bagaikan negeri asing dan sebagai tempat pembuangan limbah mata air saja ( tempat kesedian ) sebagai dunia yang menjadi tanah airnya adalah surga. Manusia tidak dapat sampai ketanah airnya ( surga ) dengan kemampuannya sendiri, sehingga harus di tolong. Karena manusia itu menurut sifat kodrat nya mempunyai cela atau kelemahan yang dilakukan (diwariskan) oleh Adam.
Mereka juga berkeyakinan bahwa Isa anak Tuhan berperan sebagai pembebas dan pemberi bahagia. Ia akan memberi pengampunan sekaligus menolongnya. Maka hanya dengan jalan pengampunan inilah manusia dapat tertolong agar dapat mencapai tanah airnya ( Surga ). Anggapan dan keyakinan inilah yang di jadikan dasar pemikiran filsafatnya
v  Faktor Ilmu Pengetahuan
Pada saat itu telah banyak didirikan lembaga pengajaran yg di upayakan oleh biara-biara, gereja ataupun dari keluarga istana dan kepustakaan nya di ambil dari para penulis latin. Arab ( Islam ) dan Yunani
Masa Skolastik terbagi menjadi tiga periode yaitu :
1.      Skolastik Awal, berlangsung dari tahun 800-1200
2.      Skolastik Puncak berlangsung dari tahun 1200-1300
3.      Skolastik Akhir berlangsung dari tahun 1300-1450

C.     Periode Skolastik (800-1500)
Zaman Skolastik dimulai sejak abad ke-9. Kalau tokoh masa Patristik adalah pribadi-pribadi yang lewat tulisannya memberikan bentuk pada pemikiran filsafat dan teologi pada zamannya, para tokoh zaman Skolastik adalah para pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katedral yang didirikan oleh Raja Karel Agung (742-814) dan kelak juga dari lingkungan universitas dan ordo-ordo biarawan.
Dengan demikian, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu periode di Abad Pertengahan ketika banyak sekolah didirikan dan banyak pengajar ulung bermunculan. Namun, dalam arti yang lebih khusus, kata “skolastik” menunjuk kepada suatu metode tertentu, yakni “metode skolastik”.
Dengan metode ini, berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara tajam dan rasional, ditentukan pro-contra-nya untuk kemudian ditemukan pemecahannya. Tuntutan kemasukakalan dan pengkajian yang teliti dan kritis atas pengetahuan yang diwariskan merupakan ciri filsafat Skolastik.
Sesudah agustinus: keruntuhan. Satu-satunya pemikir yang tampil kemuka ialah: Skotus Erigena (810-877). Kemudian: Skolastik, disebut demikian karena filsafat diajarkan pada universitas-universitas (sekolah) pada waktu itu. Persoalan-persoalan: tentang  pengertian-pengertian umum (pengaruh plato). Filsafat mengabdi pada theologi. Yang terkenal: Anselmus (1033-1100), Abaelardus (1079-1142)[6]. Periode ini terbagi menjadi tiga tahap[7]:
1.      Periode Skolstik awal (800-1200)
Sejak abad ke-5 hingga ke-8 M pemikiran filsafat Patristik mulai merosot, terlebih lagi pada abad ke-6 dan 7 di katakan abad kacau. Hal ini di sebabkan karena pada saat itu terjadi serangan terhadap romawi, sehingga kerajaan Romawi beserta peradabannya ikut runtuhyg telah di bangun selama berabad-abad di bangun
Baru pada abad ke-8 M kekuasaan berada di bawah Karel Agung ( 742-814 ) baru dapat memberikan suasana ketenangan dalam bidang politik, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Termasuk kehidupan manusia serta pemikiran filsafat yang kesemuanya menampakkan mulai adanya kebangkitan. Kebangkitan inilah merupakan kecermelangan abad pertengahan, di mana arah pemikirannya berbeda sekali dg sebelum nya
Pada saat inilah merupakan zaman baru bagi bangsa Eropa yang di tandai dengan Skolastik yang di dalam nya banyak di upayakan ilmu pengetahuan yang di kembangkan di sekolah-sekolah. Pada mulanya Skolastik ini timbul pertama kalinya di biara Italia selatan dan akhirnya sampai berpengaruh ke Jerman dan Belanda
Zaman ini berhubungan dengan terjadinya perpindahan penduduk, yaitu perpindahan bangsa Hun dan Asia masuk ke Eropa sehingga bangsa jerman pindah melewati perbatasan kekaisaran Romawi yang secara politik sudah mengalami kemerosotan. Karena situasi yang ricuh, tidak banyak pemikiran filsafat yang patut di tampilkan pada masa ini. Namun, ada beberapa tokoh dan situasi penting yang harus diperhatiakan dalam memahami filsafat masa ini.[8]
Kurikulum pengajaran nya meliputi studi duniawi atau artes liberalis meliputi  : tata bahasa, retorika, dialektika ( seni berdiskusi ) ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan musik
Di antara tokoh-tokohnya adalah :
1.      Aquinas  ( 735-805 )
2.      Johanes Scotes eriugena ( 815-870 )
3.      Peter Lombard ( 1100-1160 )
4.      John Salisbury ( 1115-1180 )
5.      Peter Abaelardus (1079-1180 )
v  Peter Abaelardus ( 1079-1180 )
Ia di lahirkan di Le Pallet, Perancis. Ia mempunyai kepribadian yang keras dan pandangan nya sangat tajam. Sehingga sering kali bertengkar dengan para ahli pikir dan pejabat gereja. Ia termasuk orang Konseptualisme dan sarjana terkenal dalam sastra romantik, sekaligus sebagai rasionalistik, artinya peranan akal dapat menundukkan kekuatan kekuatan iman. Iman harus mau di dahului akal. Yang harus dipercaya adalah apa yang telah di setujui atau dapat di terima oleh akal
Berbeda dengan Anselmus, yang mengatakan bahwa berpikir harus sejalan dengan iman, Abaelardus memberikan alasan bahwa berpikir itu berada di luar iman ( di luar kepercayaan ). Karena itu berpikir merupakan sesuatu yang berdiri sendiri. Hal ini sesuai metode dialiktika yang tanpa ragu-ragu di tunjukkan dalam teologi yaitu bahwa teologi harus memberikan tempat bagi semua bukti-bukti. Dengan demikian dalam teologi itu iman hampir kehilangan tempat. Ia mencontohkan seperti ajaran trinitas juga berdasarkan pada bukti-bukti, termasuk bukti dalam wahyu Tuhan 

Ditandai dengan pembentukan metode yang lahir karena hubungan yang rapat antara agama dan filsafat. Yang tampak pada permulaan ialah persoalan tentang universalia. Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran.
Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian adanya Tuhan berdasarkan rasio murni, jadi tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury). Selanjutnya, logika Aristoteles diterapkan pada semua bidang pengkajian ilmu pengetahuan dan “metode skolastik” dengan pro-contra mulai berkembang (Petrus Abaelardus pada abad ke-11 atau ke-12). Problem yang hangat didiskusikan pada masa ini adalah masalah  universalia dengan konfrontasi antara “Realisme” dan “Nominalisme” sebagai latar belakang problematisnya. Selain itu, dalam abad ke-12, ada pemikiran teoretis mengenai filsafat alam, sejarah dan bahasa, pengalaman mistik atas kebenaran religious pun mendapat tempat.
Pengaruh alam pemikiran dari Arab mempunyai peranan penting bagi perkembangan filsafat selanjutnya. Pada tahun 800-1200, kebudayaan Islam berhasil memelihara warisan karya-karya para filsuf dan ilmuwan zaman Yunani Kuno. Kaum intelektual dan kalangan kerajaan Islam menerjemahkan karya-karya itu dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Maka, pada para pengikut Islam mendatangi Eropa (melalui Spanyol dan pulau Sisilia) terjemahan karya-karya filsuf Yunani itu, terutama karya-karya Aristoteles sampai ke dunia Barat. Dan salah seorang pemikir Islam adalah Muhammad Ibn Rushd (1126-1198). Namun jauh sebelum Ibn Rushd, seorang filsuf Islam bernama Ibn Sina (980-1037) berusaha membuat suatu sintesis antara aliran neo-Platonisme dan Aristotelianisme.
Dengan demikian, pada gilirannya nanti terbukalah kesempatan bagi para pemikir kristiani Abad Pertengahan untuk mempelajari filsafat Yunani secara lebih lengkap dan lebih menyeluruh daripada sebelumnya. Hal ini semakin  didukung dengan adanya biara-biara yang antara lain memeng berfungsi menerjemahkan, menyalin, dan memelihara karya sastra.
2.      Periode puncak perkembangan skolastik (1200-1300)
Masa ini merupakan kejayaan Skolastik yang belangsung dari tahun 1200-1300, dan masa ini juga di sebut masa berbunga. Karena pada itu ditandai dg munculnya universitas-universitas atau ordo-ordo, yang secara bersama-sama ikut menyelenggarakan atau memajukan ilmu pengetahuan, di samping juga peranan universitas sebagai sumber atau pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan
Terdapat beberapa faktor mengapa pada masa Skolastik mencapai pada puncak nya, yaitu :
a.       Adanya pengaruh dari Aristoteles, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina sejak abad ke-12 sehingga sampai abad ke-13 telah tumbuh menjadi ilmu pengetahuan yang luas
b.      Tahun 1200 didirikan universitas Almamater di Perancis. universitas ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah. Almamater inilah sebagai awal ( embrio ) berdirinya universitas di perancis, di Oxford, dimont Pellier, di Cambridge, dan lain-lain
c.       Berdirinya ordo-ordo, ordo-ordo inilah yang muncul karena banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan, sehingga menimbulkan dorongan yang kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke-13. Hal ini akan berpengaruh terhadap kehidupan kerohanian di mana kebanyakan tokoh-tokohnya memegang peran di bidang filsafat dan teologi seperti :
·      Albertus de grote
·      Thomas Aquinas
·      Binaventura
·      J.D.Scotus
·      William Ocham
Upaya Pengkristenisasian Ajaran Aristoteles
Pada mulanya hanya sebagian ahli pikir yang membawa dan meneruskan ajaran Aristoteles, akan tetapi upaya ini mendapatkan perlawanan dari Augustinus. hal ini di  karenakan adanya suatu anggapan bahwa ajaran Aristoteles yang mulai di kenal pada abad ke-12 telah di olah dan tercemar oleh ahli pikir Arab ( Islam )
Hal ini dianggap sangat membahayakan ajaran Kristen. Keadaan yang demikian ini bertolak belakang bahwa ajaran Aristoteles masih di ajarkan di fakultas-fakultas bahkan di anggapnya sebagai pelajaran yang penting dan harus di pelajari
Untuk menghindari adanya pencemaran tersebut di atas ( dari ahli pikir arab atau Islam ) maka Albertus Magnus dan Thomas Aquinas sengaja menghilangkan unsur-unsur atau selipan dari Ibnu Rusyd dengan menerjemahkan langsung dari bahasa latinnya.
Juga bagian-bagian ajaran Aristoteles yang bertentangan dengan ajaran Kristen di ganti dg teori-teori baru yg bersumber pada ajaran Aristoteles dan diselaraskan dengan ajaran Kristen. Langkah terakhir, dari ajaran Aristoteles yg telah di selaraskan dg ajaran ilmiah ( suatu sintesa antara kepercayaan dan akal )
Upaya Thomas Aquinas ini sangat berhasil dengan terbitnya sebuah buku Summa Theologiae dan sekaligus merupakan bukti bahwa ajaran Aristoteles telah mendapatkan kemenangan dan sangat mempengaruhi seluruh perkembangan Skolastik
a.      Albertus Magnus ( 1206-1280 )
Di samping sebagai biarawan Albertus Magnus juga di kenal sebagai cendekiawan abad pertengahan. Ia lahir dengan nama Albert Von Bollstadt yang juga di kenal sebagai ‘’ doctor Universalis ‘’ doktor magnus ‘’ kemudian bernama Albertus Magnus ( Albert the Great ). Ia mempunyai kepandaian luar biasa. Di Universitas Padua Ia belajar artes Liberales, Ilmu-ilmu pengetahuan alam, kedokteran, filsafat Aristoteles, belajar teologi di Bulogna dan masuk ordo Dominican tahun 1223 kemudian masuk ke Koln menjadi dosen filsafat dan teologi
Terakhir Ia di angkat sebagai uskup agung. Pola pemikiran nya adalah meniru Ibnu Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan Ia mengadakan penelitian dalam ilmu biologi dan ilmu kimia
b.      Thomas Aquinas (1225-1274 M.)
Puncak kejayaan masa skolastik dicapai melalui pemikiran Thomas Aquinas (1225-1274 M.). Lahir di Roccasecca, Italia 1225 M dari kedua orang tua bangsawan[9]. Nama sebenarnya adalah Santo Thomas Aquinas, yang artinya Thomas yg suci dari Aquinas. Di samping Ia sebagai ahli pikir juga seorang dokter gereja bangsa Italia. Ia lahir di Rocca Secca, Napoli, Italia. Ia sebagai tokoh terbesar Skolastisisme,salah seorang suci gereja Katolik Romawi & pendiri aliran yang di nyatakan menjadi filsafat resmi gereja katolik. Tahun 1245 belajar pada Albertus Magnus.  Menjadi  guru besar dalam ilmu agama di Perancis tahun 1250 dan tahun 1259 menjadi guru besar dan penasihat Paus
Karya Thomas Aquinas telah menandai taraf yang tinggi dari aliran Skolastisisme pada abad pertengahan. Ia berusaha untuk membuktikan, bahwa Iman Kristen secara penuh dapat di benarkan dengan pemikiran logis. Ia telah menerima pemikiran Aristoteles sebagai otoritas tertinggi ttg pemikirannya yg logis. Menurut pendapatnya, semua kebenaran asalnya dari Tuhan. Kebenaran di ungkapkan dengan jalan yang berbeda-beda, sedangkan iman berjalan di luar jangkauan pikiran. Ia menghimbau agar orang-orang untuk mengetahui hukum alamiah ( pengetahuan ) yang terungkap dalam kepercayaan. Tidak ada kontradiksi antara pemikir dan iman. Semua kebenaran mulai timbul secara ketuhanan, walaupun Iman diungkapkan lewat beberapa kebenaran yang berada di luar kekuatan pikir
Thomas telah menafsirkan pandangan bahwa Tuhan sebagai tukang boyong yang tidak berubah dan yang tidak berhubungan dengan atau tidak mempunyai pengetahuan tentang kejahatan-kejahatan di dunia. Tuhan tidak pernah mencipta dunia tetapi zat dan pemikirannya tetap abadi. Selanjutnya Ia katakan, bahwa Iman lebih tinggi dan berada di luar pemikiran yang berkenaan sifat Tuhan dan alam semesta. Timbulnya pokok persoalan yang actual dan praktis dari gagasannya adalah “ pemikirannya dan kepercayaannya telah menemukan kebenaran mutlak yang harus diterima oleh orang-orang lain “ pandangannya inilah yang menjadikan perlawanan kaum protestan. Karena sikapnya yang otoriter
Thomas sendiri menyadari bahwa tidak dapat menghilangkan unsur-unsur Aristoteles. Bahkan Ia menggunakan ajaran Aristoteles, tetapi system pemikirannya berbeda. Masuk nya unsure Aristoteles ini di dorong oleh kebijakan pimpinan gereja Paus Urbanus V ( 1366 ) yang memberikan angin segar untuk kemajuan filsafat. Kemudian Thomas mengadakan langkah-langkah yaitu :

Ø  Langkah pertama, Thomas menyuruh teman sealiran Willem van Moerbeke untuk membuat terjemahan baru yg langsung dari Yunani. Hal ini untuk melawan Aristotelianisme yg berorientasi pada Ibnu Rusyd dan upaya ini mendapat dukungan dari Siger Van Brabant
Ø  Langkah kedua pengkristenan ajaran Aristoteles dari dalam bagian-bagian yang bertentangan dengan apa yang di anggap Kristen bertentangan sebagai firman Aristoteles, tetapi di upayakan selaras dg ajaran Kristen
Ø  Langkah ketiga, ajaran Aristoteles yg telah dikristenisasi kan di pakai untuk membuat sintesa yang lebih bercorak ilmiah ( sintesa deduktif antara iman dan akal ) Sistem barunya itu untuk menyusun Summa Theologiae

Ia mendapat gelar “The Angelic Doctor”, karena banyak pikirannya, terutama dalam “SummaTheologia” menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gereja. Menurutnya, pengetahuan berbeda dengan kepercayaan. Pengetahuan didapat melalui indera dan diolah akal. Namun, akal tidak mampu mencapai realitas tertinggi yang ada pada daerah adikodrati. Ini merupakan masalah keagamaan yang harus diselesaikan dengan kepercayaan. Dalil-dalil akal atau filsafat harus dikembangkan dalam upaya memperkuat dalil-dalil agama dan mengabdi kepadaTuhan. Aquinas merupakan theolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “dzat yang tertinggi”, yang mempunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya. Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas
Thomas memberi 5 (lima) bukti adanya Tuhan:
1)      Adanya gerak didunia mengharuskan kita menerima bahwa ada penggerak pertama yaitu Allah. Menurut Thomas apa yang bergerak tentu digerakkan oleh sesuatu yang lain. Gerak menggerakkan ini tidak dapat berjalan tanpa batas. Maka harus ada penggerak pertama. Penggerak pertama ini adalah Allah.
2)      Di dalam dunia yang diamati terdapat suatu tertib sebab-sebab yang membawa hasil atau yang berdaya guna. Tidak pernah ada sesuatu yang diamati yang menjadi sebab yang menghasilkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, maka harus ada sebab berdaya guna yang pertama, inilah Allah.
3)      Di dalam alam semesta terdapat hal-hal yang mungkin ada dan tidak ada. Oleh karena semuanya itu tidak berada sendiri tetapi diadakan, dan oleh karena semuanya itu dapat rusak, maka ada kemungkinan semua itu ada, atau semuanya itu tidak ada. Jikalau segala sesuatu hanya mewujudkan kemunginan saja, tentu harus ada sesuatu yang adanya mewujudkan suatu keharusan. Padahal sesuatu yang adanya adalah suatu keharusan, adanya itu disebabkan oleh sesuatu yang lain, sebab-sebab itu tak mugkin ditarik hingga tiada batasnya. Oleh karena itu, harus ada sesuatu yang perlu mutlak, yang tak disebabkan oleh sesuatu yang lain, inilah Allah.
4)      Diantara segala yang ada terdapat ha-hal yag lebih atau kurang baik, lebih atau kurang benar dan lain sebagainya. Apa yang lebih baik adalah apa yang lebih mendekati apa yang terbaik. Jadi jikalau ada yang kurang baik, yang baik dan yang lebih baik, semuanya mengharuskan adanya yang terbaik. Dari semuanya dapat disimpulkan bahwa harus ada sesuatu yang menjadi sebab daris segala yang baik, segala yang benar, segala yang mulia. Yang menyebabkan semuanya itu adalah Allah.
5)      Kita menyaksikan, bahwa segala sesuatu yang tidak berakal seperti umpamanya tubuh alamiah, berbuat menuju pada akhirnya. Dari situ tampak jelas, bahwa tidak hanya kebetulan saja semuanya itu mencapai akhirnya, tapi memang dibuat begitu. Maka apa yang tidak berakal tidak mungkin bergerak menuju akhirnya, jikalau tidak diarahkan oleh suatu tokoh yang berakal, berpengetahuan. Inilah Allah.
Kelima bukti itu memang dapat menunjukkan, bahwa ada suatu tokoh yang menyebabkan adanya segala sesuatu, suatu Tokoh yang berada karena diriNya sendiri. Akan tetapi semuanya itu tidak dapat membuktikan kepada kita akan hekekat Allah yang sebenarnya. Dengan semuanya itu, kita hanya tahu bahwa Allah ada. Sekalipun demikian dapat juga dikatakan,bahwa orang memang memiliki beberapa pengetahuan filsafati tentang Allah
3.      Periode Skolastik lanjut atau akhir (abad ke-14-15)
Periode skolastik Akhir abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang kearah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio member jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.
Masa ini ditandai dengan adanya rasa jemu terhadap segala macam pemikiran filsafat yang menjadi kiblatnya, sehingga  memperlihatkan stagnasi ( Kemandegan ) diantara tokoh-tokohnya :
ü  William Ockham ( 1285-1349 )
Anggota ordo Fransiskan ini mempertajam dan menghangatkan kembali persoalan mengenai nominalisme yang dulu pernah didiskusikan. Sebagai ahli pikir Inggris yg beraliran Skolastik . karena Ia terlibat dalam pertengkaran umum dg paus John XXII, Ia di penjara di Avignon, tetapi Ia dapat melarikan diri dan mencari perlindungan pada kaisar Louis IV. Ia menolak ajaran Thomas dan mendalilkan bahwa kenyataan itu hanya terdapat pada benda-benda satu demi satu, dan hal-hal yg umum itu hanya tanda-tanda abstrak
Menurut pendapatnya, pikiran manusia hanya dapat mengetahui barang-barang atas kejadian-kejadian individual dan konsep-konsep atau kesimpulan-kesimpulan umum ttg alam hanya merupakan abstraksi buatan tanpa kenyataan. Pemikiran yg hanya demikian ini dapat dilalui hanya lewat intuisi bukan lewat logika. Di samping itu Ia membantah anggapan Skolastik bahwa logika dapat membuktikan doktrin teologis. Hal ini akan membawa kesulitan dirinya yg pada waktu itu sebagai penguasanya Paus John XXII
ü  Nicolas Cusasus ( 1401-1464 )
Selanjutnya, pada akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman. Ia menampilkan “pengetahuan mengenai ketidaktahuan” ala Sokrates dalam pemikiran kritisnya:”Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat ku ketahui bukanlah Tuhan”. Pemikir yang memiliki minat besar pada kebudayaan Yunani-Romawi Kuno ini adalah orang yang mengatur kita memasuki zaman baru, yakni zaman Modern, yakni zaman Modern yang diawali oleh zaman Renaissans, zaman “kelahiran kembali” kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa mulai abad ke-16.
Ia sebagai tokoh pemikir yg berada paling akhir masa Skolastik. Menurut pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal yaitu :
1.      Lewat Indra
2.      Akal
3.      Intuisi
Dengan indra kita akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad yang sifatnya tidak sempurna. Dengan akal kita akan mendapatkan bentuk - bentuk pengertian yang abstrak berdasar pada sajian atau tangkapan indra.
Dengan Intuisi kita akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi hanya dengan intuisi inilah kita akan dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat di persatukan. Manusia seharusnya menyadari akan keterbatasan akal shg banyak hal yang seharusnya dapat di ketahui. Oleh karena keterbatasan akal tersebut. maka hanya sedikit saja yg dapat di ketahui oleh akal. Dengan intuisi inilah di harapkan akan sampai pada kenyataan yaitu suatu tempat di mana segala sesuatu bentuknya menjadi larut, yaitu Tuhan
Pemikiran Nicolaus ini sebagai upaya mempersatukan seluruh pemikiran abad pertengahan yang di buat kesuatu sintesa yang lebih luas . sintesa ini mengarah ke masa depan dan pemikiran nya ini tersirat suatu pemikiran para humanis







BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Zaman pertengahan ialah zaman dimana Filsafat Abad Pertengahan dicirikan dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Dilihat secara menyeluruh, filsafat Abad Pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus, yakni golongan rohaniwan atau biarawan dalam Gereja Katolik (misalnya uskup, imam, pimpinan biara, rahib), minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama kristiani.
filsafat Skolastik adalah filsafat yang mendominasikan kepada ilmu pengetahuan, berfikir dan yang dipengaruhi oleh ajaran ajaran yang mempengaruhi persoalan persoalan berpikir seseorang .Filsafat Skolastik muncul pada abad ke-8 Masehi setelah pemikiran filsafat patristik mulai merosot pada abad ke-5 hingga ke-7. Faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya filsafat Skolastik adalah faktor religius dan faktor ilmu pengetahuan.





[1] Rizal Mustansyir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2009) cet. Kesembilan. hlm. 67
[2] Ibid. hlm. 66
[3] Surajiyo, Ilmu Filsafat Pengantar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005) cet. Pertama. hal. 157
[4] Ibid. hlm. 156
[5] Handiwijono harun.sari sejarah filsafat barat.yogyakarta.kanisius.1980.hal.87.
[6] Burhanuddin salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995cet. Ketiga. hlm. 191
[7] Surajio, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta, Bumi Aksara: 2005), hlm.  157
[8]Prof.Dr.wiramihardja sutardjo.pengantar filsafat.bandung.refika aditama.2006.hal.55.
[9] Ahmad Sadali dan Mudzakir, Filsafat Umum, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), Cet. I, h. 80-81

No comments:

Post a Comment